Cinta yang Liar Part 38
Sebuah rencana yang secara garis besar sudah aku ceritakan tapi bagaimana nantinya aku tidak tahu. Yang aku tahu, kami berangkat untuk membunuh beberapa orang. Mungkin aku bisa disamakan dengan Ayahku tapi biarlah orang yang menilai aku tidak peduli. Saat ini, sekarang ini yang aku tahu hanya menolong rani dan ibunya. Kami sekarang berada tidak jauh dari pos satpam perumahan arwah. Mobil Apanza hitam berada di depan kami bersembilan yang membawa motor 250 CC, berpakaian serba hitam. Dengan membawa mikropon untuk bisa saling berhubungan satu dengan yang lainnya, kami bercakap-cakap. Hingga Rani mengirimkan BBM yang isinya Ayah telah pergi. Sejenak kami menungguk 3 mobil keluar, dan aku mengatakan kepada koplak bahwa mobil itu yang aku lihat tadi pagi.
Setelah mobil itu keluar, melewati kami dan menjauh anton keluar memastika semuanya aman. Kemudian sudira dengan pakaian seksi berwarna hitam dengan belahan dada yang wah menggiyurkan berjalan berlenggak lenggok ke arah pos satpam. Tak tahu apa yang dilakukan oleh sudira karena memang terlalu jauh jarah kami, kira-kira 100 meter dari pos satpam. Yang terlihat adalah sudira berada di antara dua satpam, dan tiba-tiba kepala kedua satpam itu tampak menunduk ke daerah dada sudira. Dan tiba-tiba satpam sudah tidak tampak lagi, sudira kemudian keluar dan melambaikan tangan. Tanda untuk kami segera menuju kearahnya, kami semua kemudian bergerak secara serempak menuju arah sudira. tampak sudira sedikit kesal ketika hendak masuk ke dalam mobil.
“iiih… tuh satpam ganas deh, masa puting dira digigit hi hi hi” ucap dira keti membuka pintu mobil
“sudah cepat masuk woi!” ucap anton
“iya ndak sabaran sih, ntar dira kasih servis deh he he he” ucap dira
“hueeeeeeeeeeeeek…” ucap kami serempak
Terlihat satpam tidak sadarkan diri, entah apa yang dilakukan sudira. Yang jelas, setelah menggigit puting dira mereka pingsan. Bodohlah, segera kami bergerak menuju ke rumah rani. Mobil melaju terlebih dahulu dan berputar berhenti di sebrang jalan. Agar lebih mudah untuk bergerak terlebih dahulu. Segera aku menelepon rani, rani segera keluar dan membukakan pintu gerbang.
“Ayo cepat!” teriakku kepada teman-temanku, masing-masing ada yang tinggal di motor dan yang membonceng turun masuk kerumah rani kecuali aku. Aku ikut masuk ke dalam.
Segera kami masuk kedalam rumah rani. Kami angkat tubuh ibu rani dari dalam kamar menuju mobil. Rani tampak sedikit cemas dengan aksi kami, tapi disela-selanya aku menenangkan rani. Ibu rani tampak menangis tapi kami berusaha menenangkannya. Tak ada kata-kata yang terucap diantara kami selama kami beraksi. Talk less do more!
“hati-hati…” ucapku yang membopong ibu rani bersama tugiyo, aris, joko
“ran, kamu ke mobil buka pintu mobilnya cepat” ucapku, Setelahnya kami segera membopong ibu dan memasukannya ke dalam mobil.
“terima kasih nak…” ucap ibu rani
“sudah ibu tenang saja, malam ini ibu akan sembuh” ucapku
“yoi bu” ucap anton
“segera kembali ke posisi sayang” ucap sudira
“cepat kalian kembali” ucap udin
“terus aku bagaimana ar?” ucap rani
“kamu bonceng aku” ucapku
Segera kami bergerak cepat ke arah motor kami. rani berjalan di belakangku dan kuserahkan helm yang sudah aku bawa sebelumnya. Kunyalakan motor 250 CC, dan Ketika hendak menarik gas terdengar teriakan dari belakang. Kami menoleh kebelakang, sebuah mobil bergerak yang semula lambat bertambah sedikit cepat.
“Hai berhenti!” teriak seorang yang kepalanya keluar dari pintu depan mobil, tukang ayah rani
“rani kembali atau ibu kamu akan mati!” teriaknya
“Ayo ar, cepat jalan!” teriak wongso yang sudah menarik gas motornya,
“Ar itu Ayah” ucap rani yang sudah dibelakangku, segera aku menarik gas motorku
“wes to lhek dang nyikep (sudah to segera peluk aku)” ucapku, rani kemudian memeluk tubuhku dan kutarik gas motor dan berputar melewati median jalan
“Berhenti atau kubunuh kalian” ucap tukang yang semakin mendekat, kulihat sekilas ada dua mobil dibelakang motor tukang.
Kaca mobil anton terbuka….
“PLAN C” ucap anton
Kami kemudian berhenti menunggu ketiga mobil itu bergerak memutar sedangkan mobil anton sudah terlebih dahulu bergerak menjauh. Ketika 3 mobil dibelakang kami mendekat kami tarik gas dan melaju menjauh. Dengan posisi kami melaju, tugiyo sedikit membalikan badannya ke belakang.
“FUCK YOU!” teriak tugiyo dengan mengacungkan jari tengah tangan kanannya
“Kejar mereka!” teriak tukang kepada dua mobil dibelakangnya
“ingat arah tujuan kalian pergi” ucap anton di mikrophone kami
“roger danuarta bro!” ucapku
Kelima motor melaju dengan cepat, diiikuti 3 mobil dibelakang kami. Malam jam 8 jalanan sedikit ramai ditengah kota. Anton mennginsturksikan untuk bergerak melingkar melewati kota seperti pada rencana kami. Kami melewati jalur lingkar kota, anton berada jauh di depan kami sedangkan kami 10 orang berada di belakangnya. 3 mobil yang berjajar dibelakang kami terus mendekat.
“pisah formasi!” teriak wongso dengan gerak tangannya, 2-2-1.
Motor 1 dan 2 menepi ke kiri, motor 3 dan 4 tetap ke kanan sedangkan motor 5, aku tetap di tengah. Posisi sekarang adalah posisi arah jalan ke bukit yang kita rencanakan. Sebuah mobil mendekati motor 1 dan 2 tampak tugiyo dan aris sedikit berdiri dan mengejek mobil dibelakangnya dengan menepuk-nepuk bokongnya. Mobil itu terpancing dan mengikuti motor 1 dan 2 yang berbelok ke kiri, entah apa yang terjadi.
Motor 3 dan 4 juga didekati oleh sebuah mobil tepat di belakangnya, parjo dan joko tampak membalikan badan kebelakang dserta diacungkannya jari tengah kearah mobil itu dan akhirnya mobil itu ikut terpancing dan berbelok ke kanan, menghilang dari pandanganku. Sekarang yang tersisa hanyalah aku dan rani dengan satu motorku, menuju bukit bacusa. Tapi sial, mobil anton didepan jauh berhenti karena ada truk yang sedang mencoba berputar padahal jalan menuju bukit bacusa ada di sebelah kanan setelah truk itu.
Brak… ciiiit mobil dibelakangku sedikit menabrak bagian belakangku. Rani hanya terdiam dan memelukku semakin erat. Aku sedikit mengerem dan membanting setri ke arah kiri, dari kejauhan mobil anton bisa memaksa truk untuk berhenti dan membiarkan anton melewatinya. Karena posisi truk yang masih melintang membuatku tak bisa berbelok ke kanan menuju bukit bacusa. Hanya bisa melewatinya saja diikuti oleh mobil dibelakangku. Aku masih melaju dengan cepat didepan mobil yang mengejarku.
“Sial” bathinku
Tiba-tiba sebuah mobil berada di sebelah kiriku mencoba menghempaskan aku dengan bodi sampingnya. Dengan cepat aku menggoyang motorku ke arah kanan dan dia mendahuluiku. Tampaknya mobil itu tidak mempedulikan aku, dia mengejar mobil anton. Kulihat sebuah tanda plang berputar balik, tanda bahwa didepan ada median yang bisa aku gunakan untuk berputar dan menuju ke bukit bacusa. Kutarik gas lebih dalam segera aku berada disamping mobil itu, terlihat tukang sedang serius mengyetir mobilnya mengejar mobil anton.
“Ran…!” teriakku
“Apa?!” balasnya
“Acungkan jari tengahmu ke arah mobil itu!” ucapku
“Cepat!” teriakku
Segera aku mendekati mobil itu dari arah kanannya, dan brak kutendang spion kanan mobil itu. Tampak tukang sangat terkejut dan menoleh kearahku, dan tepat pada saat dia menoleh ke arahku. Rani mengacungkan jari tengahnya kearah tukang. Tukang seketika itu menggoyang mobilnya mencoba menjatuhkan aku, tapi dengan cepat aku mennggoyang motorku ke kanan untuk menghindari sentuhan bodi.
“KAMU BAJINGAAAAAN! KONTOL KECIL! SUKA ONANI! BAJINGAN GILA TEMPIIIK!” teriak rani yang sebenarnya diluar dugaanku karena dia bisa mengatakan hal kotor seperti itu
“BAJINGAN!” terdengar teriakkan tukang, segera dia mengarahkan mobilnya mengejarku
Ya, sesuai rencanaku. Aku kemudian menancap gas lebih dalam, dan dengan cepat aku banting setir ke arah kanan. Ciiiiiiitttt… dan posisi motorku sekarang berlawanan dengan posisi mobil. Mobil itu tampak mengeram mendadak dan mencoba memutar arah.
“cuiiiihh…” rani meludah kearah mobil itu dan segera aku tancap gas. Yupz, mobil itu mengikutiku di belakangku. Saatnya menuju keara bukit bacusa
Jalan semakin menanjak, kutahu jalan ini pernah aku susuri ketika masih SMA bersama koplak. Jalana yang lama kelamaan akan menjadi sangat sempit, dan juga menyeramkan karena kanan-kirinya berupa belahan bukit. Ya, jalan yang akan aku susuri adalah jalan yang membelah bukit dimana kanan dan kirinya hampir seperti tembok yang menjulang tinggi. Motor 250 CC ini semakin aku pacu dengan cepat, hingga pada jalan yang lurus kuliha seorang laki-laki dengan motor bebeknya mengacungkan jempol ke arahku. Aku tak tahu siapa dia yang jelas dia tersenyum kepadaku. Hingga motorku melaju dengan cepat melewati lelaki itu.
Jalan menjadi semakin gelap tanpa ada penerengan jalan disini. Walau begitu aku masih hapal jalan-jalan disini. Tepat didepanku sebuah tikungan yang berbelok ke kanan yang sedikit tajam dengan jalan sedikit menanjak landai. Sesuai dengan rencana, Motorku sedikit aku lambatkan sehingga mobil dibelakangku akan berada di kananku. Dan ya, mobil itu mulai mencoba menyalipku dari kanan. Posisi mobil sudah berada di kanan belakangku, tampaknya mobil itu menginginkan aku hidup-hidup. DOR DOR DOR… suara tembakan dari mobil kulihat tembakan itu diarahkan ke atas.
“berhenti!” ucap tukang dari belakang mobil,
Tiiiiiiiiin tiiiiiiiiiiiiiiiin… bunyi klaskson dari mobil dibelakangku
“Arya, aku takut…” ucap rani yang terdengar pelan
“Peluk aku lebih erat, kita akan selamat!” teriakku
Tepat ketika tikungan ke kanan tajam, kupacu motorku. Dan…
THIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN THIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN….. CIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT BRAAAAAAAAAAAKKKKK….
Sebuah truk dengan bemper baja yang monyonh kedepan melaju di samping kananku. Mobil yang berada dibelakangku kehilangan kendali. Tampak sebelum terjadi tabrakan, dari spion kulihat tukang mencoba membanting mobilnya ke kiri tapi terlambat. Truk dengan lampu yang tidak menyala ini, sudah terlebih dahulu menghantam dan mendorong dengan sangat keras mobil yag ditunggangi tukang. Hingga ringsek mobil itu tak berbentuk tergencet antara truk dan dinding jalan, aku kemudian mengerem motorku dan berputar balik. Tampak pak wan keluar dari truk tanpa plat nomor itu dan berjalan melewati mobil yang ringsek. Aku segera mengejarnya, dan kudekati pak wan. Seorang lelaki datang dengan motor bebeknya. Kami berada agak jauh dari mobil yang ringsek itu.
“Pak wan terima kasih” ucapku, motor bebek dengan seorang lelaki itu mendekat
“Sudah kewajiban saya membantu den arya” ucapnya
“Ar,aku pinjam korekmu” ucap rani yan kemudian turun, mengalihkan perhatianku dan kedua orang lelaki dihadapanku
“Buat apa?” ucapku
“Sudah… pinjami aku” ucapnya kemudian ku beri korek apiku
Terlihat sebuah cairan mengalir mendekati tempat kami berada. Rani kemudian mendekati cairan itu dan menyalakan korek api. Seketika, api merambat melalui korek itu dan kemudian berlari kembali kearahku. Kami berempat kemudian bergerak menjauh dan DHUAAAAAAAAAAAARRRR…. sebuah kembang api besar membakar mobil dan truk itu,
“MATI KAMU BAJINGAAAAAAAAAAAAAAAAN!” Teriak Rani
“Sudah ran…” ucapku
“hiks hiks hiks… terima kasih ar, terima kasih” ucapnya sambil memelukku di belakang motor
Masih bersama kobaran api….
“pak truknya?”ucapku kepada pak wan
“Sudah den wicak, tenang… saya bisa beli lagi” ucap lelaki itu
“Eh… tapi…” ucapku sedikit kaget mendengar nama kakekku
“Sudah, ndak papa, truk itu belum setimpal dengan apa yang sudah dilakukan tuan wicak kepada saya. Apalagi saya membantu cucu dari orang yang berarti bagi saya, den arya, tapi saya lebih suka memanggil anda den wicak” ucap lelaki itu
“perkenalkan den, ini anak saya, namanya Warnadi” ucap pak wan
“oh iya, saya…” ucapku terpotong
“Den Wicak, pokoknya saya manggil aden dengan nama kakek aden” ucap mas war
“terima kasih, saya sangat berterima kasih” ucapku
“Jadi Mas War itu yang tadi dipinggir jalan itu ya?” ucapku kepada mas war anak dari pak wan
“Iya, tadi sore bapak nelpon aku mas, katanya akan ada pertarungan lumayan besar mas. Makanya aku nemenin bapak, sekalian ngikuti rencana temannya mas yang namanya siapa tadi pak?” ucap mas war kepada pak wan
“Wongso, anak pemilik warung makan itu lho den” ucap pak wan
“owh… pantes dia tadi bilang ke aku pak, mas” ucapku kepada mereka berdua
Kami terlibat perbincangan sebentar, yang kemudian kami berpisah. Pak wan pulang dan sebelum pulang pak wan memasang sebuah tanda di tengah jalan yang berjarak kurang lebih 200 meter dari tabrakan “ADA KECELAKAAN HATI-HATI”. Setelahnya kupacu motorku ke arah rumah sakit, dalam perjalanan dengan laju lambat.
“Ar…” ucap rani
“Hmmm…” ucapku
“Terima kasih” ucapnya
“tenang cu… sekarang kamu bersembunyi dulu ya cu he he he” ucapku
“dasar kakek-kakek ha ha ha hiks terima kasih pokoknya” ucapnya
“iya… iya jangan nangis, toko dah pada tutup ndak ada yang jual tisu” ucapku
“nyebelin kamu itu”
“ar, mulai sekarang kamu adalah kakakku” ucapnya
“kakek sajalah biar keren” balasku
“Kak arya.. ehem… asyiik punya kakak” ucapnya
“tapi ingat, aku pengen punya adik ipar bernama anta” ucapku
“Siap kakakku pasti” ucapnya semakin erat memelukku
Hingga aku masuk ke dalam jalur lingkar, dan menuju kearah rumah sakit. Tampak segerombolan koplak berada di samping jalan. Aku berhenti dan tersenyum kepada mereka, mereka pun membalasnya. Wongso dengan santai melempar sekaleng minuma bertuliskan pasir hijau. Aku turun dan duduk memutar bersama mereka, dalam keheningan dan senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba kami tertawa sangat keras bersama-sama.
“KOPLAAAAAAAAAK! HA HA HA HA HA…. !” teriak kami bersama-sama
“HA HA HA HA… MAU HERMAWAN KONTOLE GATEL, OMONGKE DIRA BEN DIGARUKE (tadi hermawan kontolnya gatal, bilangkan dira biar digarukin)” teriak karyo
“Ah matamu! Malah diemut susah ngko ha ha ha (Malah di emut, susah nanti) ” balas hermawan
“Lha joko malah geblek, moso Hapeku yang dibuat untuk melempar, kampret joko tuh” ucap hermawan
“masalahnya, kan sayang kalau hapeku, hapeku buat BBM-an sama pacarku. Lha kamu? Pacar sebelah rumah saja pakai hape wekekekekekekeke…” ucap joko membalas
“AH RAIMU (WAJAHMU) ha ha ha ha” ucap hermawan di iringi gelak tawa kami bersama
“Lha tugiyo malah jadi pecinta dangdut, sudah tahu situasi genting perang, malah muter evie tamala” ucap wongso
“Gila separo itu tugiyo” dewo menimpali
“Parah lagi parjo, lagunya tina toon… mama bolo bolo… gila ndak tuh?” ucap karyo sambil gerak tubuhnya meledek parjo
“sama gilanya hahaha” uca aris diiringi gelak tawa kami semua
“Woi, lha tadi hasilnya bagaimana?” ucapku kepada mereka semua
“NASI BAKAR HA HA HA HA” ucap wongso, tugiyo, dewo dan aris yang kemudian mengacungkan jempol ke arahku
“PEPES BAKAR HA HA HA HA” ucap karyo, joko, parjo, dan hermawan yang kemudian mereka bersama-sama serta masing-masing dari mereka mengacungkan dua jempol kearahku
“Lha kamu ar?” ucap wongso dan dewo bersamaan
“bandeng presto, tapi habis itu dibakar” ucapku santai
HA HA HA HA HA… gelak tawa kami bersama…
“Kakak-kakakku…” ucap rani memecah keceriaan kami
“hiks hiks hiks terima kasih hiks hiks hiks” ucapnya yang berdiri sambil membungkuk ke arah kami bersembilan
“WOI NANGIS MANEH (LAGI) TAK PERKOSA LHO” ucap parjo
“EH…” rani sedikit kaget
“Bercanda mbak ha ha ha, mana mungkin kita ngelakuin itu sama ih ih nya arya wekekekekekek” ucap wongso
“gundulmu, ini adikku” ucapku
“Adik ketemu gede? Wah bahaya arya… ha ha ha ha” ucap dewo
“Aku adiknya kak arya, terima kasih sekali lagi teman-teman kak Arya” ucap rani kembali membungkuk kearah kami
“hei…” ucapku, serentak kami bersembilan mengacungkan jempol ke arah rani. Dia hanya mampu tersenyum dengan aliran air mata kebahagiaan
Hingga akhirnya kami menyudahi nongkrong sejenak ini karena telepon dari anton agar segera ke rumah sakit. Ku kabarkan kepadanya bahwa misi berhasil dan kami akan segera menuju ke rumah sakit. Laju pelan motor beriringan, diiringi dengan gelak tawa dan canda kami. kadang ada yang memukul dan kemudian lari dengan motornya. Adapula yang “ngegas-ngegas” dengan tujuan manas-manasin temannya. Ya itulah koplak, aku sebenarnya juga tidak mengerti kenapa aku bisa bersama mereka. Tidak pernah mengerti kenapa mereka bisa menjadi temanku. Teman yang lebih akrab dari seorang sahabat, entah mungkin nama lainnya adalah keluarga keduaku. Tak ada marah ataupun benci sekalipun ada masalah diantara kami.
“Kak…” ucap rani dibelakangku
“Hmm…” jawabku
“terima kasih..” ucapnya
“Sudahlah anggap saja ini sebagai hadiah persaudaraan kita” ucapku
“HeÂ’em…” ucap rani sambil memelukku sangat erat
Rani, seorang gadis yang tampak berbeda dengan yang aku kenal ketika KKN. Dia yang sebelumnya selalu diam selama KKN, tertutup akan semua hal yang ada dalam dirinya. Sekarang sungguh tampak berbeda, dengan posisi memelukku pun dia mendendangkan lagu entah lagu apa. Dia sudah berani mengejek temanku, mengatai mereka dengan berbaga macam hal yang sedikit parno. Tapi tanggapan dari teman-temanku tetaplah biasa, karena mereka tahu gadis ini sudah menjadi adikku dan pastinya adik mereka juga.
“Kak aris?!” teriak rani ketika motor yang ditunggangi aris berada disampingku
“Apa ran?” ucap aris
“Kakak ahli keris ya?” ucap rani
“Wah pasti arya yang kasih tahu ya, emang kenapa?” ucap aris
“iiih pasti itunya ikut bengkog-bengkong juga ya, ngeri deh… hiiiiiiiiiiiii weeeeeeeeeeeeeek” ucap rani
“awas kamu ya tak jewer kamu” ucap aris dengan gaya orang tua yang hendak memukul
“Lari kak arya, cepetan… ntar aku dipukul” ucap rani
“iya iya…” ucapku yang langsung menancap gas menjauhi aris
Rani membuat kami semakin lengkap hari ini. candanya membuat kami terpingkal-pingkal, apalagi setelah aku memberitahukan sebutan sahabat-sahabatku. Aku masih dikejar-kejar oleh motor dewo dan aris, terlihat ugal-ugalan namun bahagia. Bukan hanya aris, semua kena, aku juga. Ejekan-ejekan rani terus saja keluar sampai kita berada dirumah sakit. Kami langsung berjalan menuju lantai dimana anton, udin, dan sudira sudah menunggu. Dan jelaslah ada tante asih disana. Kami semua mendapat keterangan bahwa yang mengoperasi ibunya rani adalah Om Heri, adik tante asih yang sudah aku ceritakan sebelumnya.
“berdiri, baris yang lurus!” bentak tante asih, membuat kami terkejut setengah mati. Tanpa bisa membantah, kami langsung berbaris lurus satu barisan
“Maju satu persatu!” bentak tante asih
“ini lagi, keluyuran malem-malem” ucap tante asih sambil menjewer telinga anton. Anton mangaduh dan langsung berjalan kebelakang tante asih
“ini lagi, cowok bukan cewek bukan, mau cari pelanggan” ucap tante asih menjewer sudira
“Awwwwww… tante jangan keras-keras nanti dira tambah ndak cantik lho” ucap dira yang langsung terdiam ketika melihat mata tante asih melotot. Dia kemudian berjalan kebelakang anton
“kalian ndak usah maju” ucap tante asih yang kemudian berjalan kesamping kami semua
“ini nakal”
“ini juga”
“apalagi ini”
“kamu juga”
“ini tambah nakal lagi”
“dasar ndak bisa di atur”
“nakal kok ndak ketulungan ergh!”
“kapan tobatnya!”
“tambah kamu lagi”
“ini juga” ucap tante asih yang berjalan di samping kami semua, setiap kata-kata yang keluar dari tante asih disertai jeweran
“ganas!” ucapku pelan
“Apa kamu bilang ar?” bentak tante asih
“ndak tan endak kok” ucapku
“modaro (mati kamu)”ucap dewo
“sudah-sudah, pokoknya kalian kalau sedang mengerjakan sesuatu….”
“hati-hati, tante tidak ingin kehilangan kalian” ucap tante yang membuat kami semua terharu
“tanteeeeeeee eeee eee eee ee…” ucap kami serempak
“apa?! Apa?!” bentak tante sambil mengepalkan tangan ketika kami hendak memeluknya
“hi hi hi hi ternyata kakak-kakakku takut sama tante ya hi hi hi” ucap rani
“kamu juga?! Cewek keluar malam-malam, mau jadi apa?!” ucap tante asih sedikit membentak rani
“SUKURIIIIIIIIIIIIIIIINNNN!” ucap kami bersama-sama
“anu tan anu aaaaa… kak arya yang ngajak tan aaaaaaaaaaaaaa” rengek rani, kami semua tertawa melihat tingkah rani
Kami kemudian berkumpul, koplak semua duduk di lantai sedangkan tante asih duduk bersama rani di bangku. Tante memperkenalkan diri kepada rani dan kemudian mengatakan kepada kami jika operasi ibunya rani berhasil. Om heri menyarankan agar ibu rani menjalani rawat jalan.
“tapi tan itu anu…” ucapku
“Sudah tenang saja, anton sudah mengatakan semuanya. Itulah sebabnya om heri mau datang malam ini untuk mengoperasi. Dia sudah pulang sebelum kalian datang, dan tadi anton juga sudah bercerita mengenai apa yang kalian lakukan”
“Ingat kalian harus terus menyembunyikan identitas kalian. Jangan sampai ketahuan, dan kamu arya, hati-hati karena kamu paling dekat dengan mereka…” ucap tante asih
“Iya tan, hufffttttthh… tante sudah tahu semua mengenai dia?” ucapku
“Ketika kamu SD, tante sudah tahu kelakuannya… Aku tidak ingin mbak diah mendertia lagi”
“untuk tindakanmu malam ini dan seterusnya, tante akan mendukungmu” ucap tante
“Paling dekat? Dekat dengan siapa?” tanya rani
“Kamu belum cerita siapa kamu ar?” ucap tante asih dan ku jawab menggeleng
“Ran… Yang tadi kamu bakar…” ucapku dengan senyuman
“eh… iya kak…” ucapnya
“Satu komplotan dengan Ayahku, dan aku juga pasti akan menyingkirkan ayahku sendiri seperti kamu” ucapku
“Eh… tapi kakak tidak perlu melakukan hal yang rani lakukan tadi” ucapnya tertunduk
“Mungkin kamu melihat langsung penderitaan Ibu kamu, tapi aku tidak aku mengetahuinya dari sudut pandangku sebagai seorang anak, dan sudah ada beberapa yang menderita karenanya, dan aku tidak ingin itu semua berlanjut. Mungkin aku pelru belajar untuk lebih tegas lagi seperti kamu tadi” ucapku, rani tersenyum memandangku
“Wah masalah keluarga ini, kayaknya kita ndak perlu tahu… kita mau cari semoking areya, ada ndak tan?” ucap hermawan
“Di atap gedung, dan ingat puntungnya dibuang ke sampah kalau tidak, besok OB akan tante usulkan untuk libur” ucap tante sambil menunjukan arah menuju ke atap gedung
“lha? Apa kaitanya dengan kita tan?” ucap dewo
“Kalian yang akan menggantikannya” ucap tante asih dengan pandangan yang sangat tajam
“Hiiiiii… takuuuuut…. nanti dibersihkan bro, dulu rumah satu komplek sekarang satu rumah sakit ngeriiii… ganas” ucap udin
“Apa tadi yang kamu bilang?!” bentak tante asih
“lari bro…” ucap wongso yang langsung lari dan diikuti oleh teman koplak yang lain. Kini tinggal aku, tante dan rani
“Ran, nanti setelah ibu sedikit baikan. Akan tante bawa kerumah tante dan kamu juga tinggal bersama tante ya, masalah nanti kebutuhan kamu akan tante penuhi, okay?” ucap tante asih
“hiks terima kasih tanteee…. huuuuu… huuuuu… ndak nyangka akan bertemu keluarga sebaik ini hiks hiks hiks” ucap rani sambil memeluk tante
“sudah, kamu katanya dah jadi adiknya arya, berarti kan keponakan tante” ucap tante asih
“Iya tuh, lagian si arman anak pertama tante yang masih SD kan pengen banget punya kakak perempuan” ucapku
“he’em nanti kamu mainnya sama anak-anak tante ya ran” ucap tante asih
“HeÂ’em…” ucap rani yang memandang tante asih sembari mengusap air matanya
“Sudah, kamu sekarang boleh menemani Ibu kamu ya, tuh kasihan ibu kamu sendirian, tapi jangan diabangunin ya, biarkan ibu kamu istirahat” ucap tante asih
“iya, tan…” ucap rani cipika-cipiki dan kemudian berdiri
“Makasih kakak ehem.. cup” ucap rani yang berjalan dan mengecup keningku yang sedang duduk di lantai
“iya ngeng cengeng…” ucapku, rani hanya menoleh tersenyum dan tetap berjalan ke arah ruang kamar ibunya
Setelahnya hanya tinggal aku dan tante asih. Tante memandangku dengan tatapan lembutnya, aku hanya menaikan bahuku. Tante kemudian tersenyum dan melambaikan tangannya agar aku mendekat. Aku pun mendekat kearahnya dan duduk dilantai membelakanginya, bersandar pada bangku tempat duduk tante asih. Aku duduk dengan kedua kakiku kutekuk ke atas.
“Ar…” ucapnya
“ya tan…” balasku
“hati-hati, dia terlalu berbahaya…” ucapnya
“mungkin tan, tapi aku sudah tahu kebusukannya dan karena kebusukannya juga aku lahir” ucapku
“Ibumu cerita semuanya?” ucapnya
“HeÂ’em… dari awal hingga akhir” ucapku
“Kakekmu sebenarnya tidak setuju dengan pernikahan Ibumu tapi karena itu janji kakek buyutmu ya kakekmu mau bagaimana lagi, walau kakekmu tahu itu hanya akal-akalan keluarga ayahmu. Karena kakek menghormati kakek buyut dari ayahmu dan kakek buyut dari ibumu, kakekmu mau. Tapi ternyata laki-laki itu busuk sekali, kakek tahu setelah beberapa tahun ayahmu mulai menjabat” ucap tante
“aku sudah tahu, dan tante jangan salahkan kakek wicak dan nenek mahesa, mereka juga sama menderitanya karena ulah bajingan itu” ucapku
“Kamu kok tahu kakek dan nenek dari ayahmu?” ucapnya
“Aku mencarinya dan mereka menceritakan semua. Mereka ahhhh… setelah bercerita meninggal di pelukanku” ucapku
“Eh… jadi kamu sudah melakukan pencarian…”
“hati-hati, dan jaga keluarga ini ar… semua bergantung padamu” ucap tante
“Eh… maksud tante?” ucapku
“Kita semua sudah tahu akan gerak-gerik Ayahmu, lambat laun dia pasti akan menyingkirkan keluarga kita. Semua sebenarnya sudah berusaha untuk menjatuhkan ayahmu tapi akar dia terlalu kuat jika dihadapi dengan face to face. Harapan kami ya kamu, karena dia tidak pernah tahu kamu” ucap tante
“hmmm… aku pasti bisa menghancurkannya…” ucapku
“kami selalu akan mendoakan dan mendukungmu, jaga ibu kamu ya?…” ucap tante, aku hanya mengangguk pelan
Keheningan dari kami berdua…
“bagaimana dian?” ucap tante
“Eh…” aku hanya menunduk di sela-sela kakiku yang tertekuk
“hari minggu malam, sekitar pukul 22:00 dia duduk diruang tunggu pasien lanta bawah…”ucap tante
“Eh….” aku terkejut dan menoleh ke arahnya
“aku kemudian mengatakan sesuatu kepadanya, dan maafkan tante jika akan ada hasil yang ya bisa buruk bisa juga baik, tapi tante tidak tahu selebihnya…” ucap tante
“Apakah dia menceritakan tentang aku?” ucapku
“ya, hanya saja tidak semuanya ada yang dia sembunyikan dari cerita tentang kamu” ucap tante
“Aku terlalu kotor untuknya…” ucapku
“Makanya pakai deterjen, direndam dan dibersihkan…” ucap tante dengan canda
“Semua tergantung kalian berdua”
“Sudah, tante mau menemani rani. Pagi nanti, jika ibu rani sudah siuman akan langsung tante bawa kerumah. Administrasinya sudah tante palsukan jadi kamu tenang saja, pihak rumah sakit sudah tante atur” ucapnya sambil meninggalkan aku
“Atur?” ucapku
“kan ada om kamu, tante, dan pak dhe Anas sahabat pak dhemu, jadi everything will be fine, urus tuh cinta kamu hi hi hi” ucapnya, aku hanya memandang tante asih berlalu
Aku menerawang ke atas kembali, setelah semua aku lalui hari ini nampaknya akan menjadi sangat rumit hubunganku dengan bu dian. masa bodohlah, seandainya tidak ada dia pun langit masih biru dan daunpun masih hijau kecuali yang sudah layu atau mati. Aku bangki dengan langkah yang malas ke arah atap gedung. Dalam langkah ingatanku kembali ke masa-masa dimana semua masih indah, masa-masa dimana semua masih lugu. Masa dimana aku bersama mereka kembali koplak, rasanya aku ingin sekali kembali ke masa SMA.
“Weh weh weh… surem banget wajahmu ar?” ucap udin
“Sini dira peluk biar ndak surem lagi?” ucap dira sambil membuka kedua tangannya
“O… lha kenthir (Gila), teman sendiri mau diembat juga?!” ucap dewo
“Hayah, sudah bro, yang surem itu juga siapa”
“Rokok!” ucapku dengan gerak tangan meminta rokok.
Wongso dan anton yang kemudan berdiri dan melangkah menjauh dari rombongan melambaikan tangan mengajakku untuk mengobrol. Dia kemudian duduk di lantai atap kgedung. Aku menyusulnya, entah apa yang akan dia katakan kepadaku.
“Sini ar, aku mau bicara dulu” ucap anton
“Ada apa?” ucapku sembari duduk di depan mereka berdua
“Bagaimana rani?” ucap anton
“Dia akan tinggal bersama tante asih, dan aktifitas sebagai mahasiswinya untuk sementara di tinggalkan dulu. Lagian ini libur semester 7, besok semester 8, rani hanya tinggal bimbingan. Jadi tidak masalah jika dia tidak bimbingan terlebih dahulu, dia bisa bimbingan kalau situasinya sudah mulai reda dan tenang. Masalah registrasi kuliah di semester genap (8) akan diurus oleh tanteku, jadi sekarang rani dipingit” ucapku
“baguslah kalau begitu…”
“Oia ar, bagaimana ayahmu?” ucap anton
“Iya bagaimana dengan dia?” uca wongso
“Sementara ini, selama Ayahku dirumah tidak ada percakapakan atau pergerakan yang mencurigakan. Rumah baginya hanya terminal pemberhentian bus sementara, habis masuk rumah 1-2 jam kemudian keluar lagi” ucapku
“Lha ibumu ndak papa ar?” Ucap wongso
“Ibu, begitu juga aku malah lebih bahagia ketika dia tidak ada dirumah” ucapku
“Ada informasi tambahan?” ucap anton
“Tidak ada nton, mungkin kita menunggu reaksi mereka setelah kematian tukang” ucapku
“benar, kita tunggu saja…” ucap anton
“Ton…” ucapku, dia menoleh kearahku
“Jangan beritahukan ke teman-temanmu mengenai aksi kita, aku tidak ingin IN mengambil bagian dari kesenanganku yang berbahaya ini” ucapku
“Kesenanganmu? Kesenangan kita kali” ucap wongso dan anton bersamaan
“Eh…” aku terkejut dengan jawaban mereka, anton kemudian berdiri
“Tenang bro, selama masih ada koplak, biarkan koplak yang menanganinya. Untuk rencana, kita bisa mengaturnya, selama kita masih punya keberanian terutama berani mati. Well… koplak will handle it” ucap anton sembari melangkah pergi menuju ke kerumunan koplak yang lain, aku hanya memandangnya dengan tersenyum kecil
“Cat…” ucap wongso, aku menoleh ke arahnya
“Kemarin dian ke warung, dia mengobrol denganku…” ucap wongso
“Eh…” aku hanya tertunduk
“Sudahlah… aku sudah tidak ingin mendengarnya lagi” ucapku
“tapi dia mendengarkan aku tentang seorang lelaki yang bukan apa-apa sekarang menjadi apa-apa untuk sahabat-sahabatnya” ucap wongso
“Ah…. terserah kamu mau cerita apa wong, aku sudah tidak peduli lagi” ucapku, sembari menyulut dunhill dan melepaskan asapnya ke arah langit
“Terserah kamu juga cat, mau mendengar atau tidak…”
“Dia hanya bertanya kepadaku, tentang seorang lelaki, tentang masa lalunya, dan kemudian aku bercerita mengenai 11 orang yang egois!” ucapnya dengan sedikit mengeraskan suaranya ketika mengatakan 11 orang egois
“Keras kepala” ucap dewo
“sok jago” ucap karyo
“Pemarah” ucap udin
“suka menang sendiri” ucap anton
“Suka membully” ucap tugiyo
“Suka menindas” ucap joko
“Suka menghina” ucap parjo
“Suka memaksa ciiiin” ucap dira
“dan tak mau menerima pendapat orang lain” ucap aris, ucap mereka secara bergantian dan aku hanya menoleh kearah mereka
“tapi disatukan oleh satu orang, yang kemudian jumlah mereka menjadi 12 orang. sebenarnya ketika mereka menjadi satu belum ada namanya, hingga ketika ke-12 orang ini bersatu dan sedang berkumpul untuk sekedar nongkrong di nasi kucing. Tiba-tiba, sekelompok orang menamai diri mereka geng tato dengan jumlah lebih dari 20 orang, mengobrak-abrik nasi kucing tempat ke-12 orang itu nongkrong. Tapi dengan santai ke-12 orang itu menghajar mereka dan menjadikan mereka bahan banyolan di hadapan semua orang. hingga ada orang yag berteriak, “matur suwun geng koplak” dan mulai saat itu, semua mengenal yang namanya geng koplak” ucapnya aku hanya tersenyum kecil kepada wongso
“dan ketika itu aku menceritakan bagaimana satu orang yang menyatukan ke-11 orang lainnya itu menolong ibuku dari kebakaran” ucap wongso
“bahkan mengambil BPKB dan STNK serta motor kakeknya untuk membayar biaya rumah sakit adikku” ucap anton
“Ada lho, yang ngambil perhiasan ibunya Cuma buat nglunasi utang bapakku” ucap joko
“Bahkan sampai berdarah-darah nolongin adik perempuanku yang hampir diperkosa sama geng kemarin sore” ucap dewo
“dan sialnya lelaki itu juga bantu nglunasi hutang ibuku di lintah darat, andai saja ndak dilunasi mungkin udah ndak punya rumah aku” ucap karyo
“ada juga yang setiap hari ngurusin kambing-kambingku ketika aku nungguin ibuku dirumah sakit, eh ditambah lagi pas keluar dari rumah sakit dan mau bayar, sudah lunas semua biayanya” ucap aris
“Bahkan ada yang bantu modal ibu dan bapakku buat jualan, agar aku bisa nglanjutin sekolah dan ndak perlu kerja” ucap udin
“ada juga yan nolongin aku waktu aku dijebak cin sama mata keranjang, untung waktu itu ndak jadi mati cin, dibuang coba di tengah hutan, untung tuh ada yang nyariin aku setelah 2 hari aku ndak kelihatan” ucap sudira
“Ada juga yang bayarin biaya operasi kakekku dan ayahku yang kecelakaan bersama waktu itu, ya walau akhirnya kakek meninggal tapi paling tidak aku masih bisa melihat ayahku sampai sekarang” ucap tugiyo
“Ada, waktu ruko ayahku dan ruko ayah hermawan terbakar ludes. Sudah ndak tahu mau kemana, ditambah lagi pak’e sama mbok’e semuanya ndak punya uang. Tapi tiba-tiba, selang satu minggu ruko itu sudah berdiri lagi di pasar besar” ucap parjo
“ya, aneh kan wong terbakar ludes, selang satu minggu ndak pernah tak lihat lagi. Eh dikasih tahu orang pasar, kalau rukoku dan ruko parjo dah siap untuk jualan. Barang dagangannya saja sudah lengkap didalam” ucap hermawan mengiyakan parjo
Mereka semua yang berkerumun memandangku dengan senyum. Aku hanya mampu tersenyum lebar setelah semua yang aku lakukan telah diketahui mereka semua. Ya, waktu masih SMA aku menyembunyikannya sebelum aku baru berkumpul dengan mereka, baru saja berkumpul dan belum mempunyai nama. Aku sudah menganggap mereka keluarga, karena mereka aku juga memiliki banyak teman. Kejadian itu semua sudah berlangsung sangat lama, dan ketika itu mereka belum tahu walau akhirnya mereka tahu.
“itu catatan masa lalu br…” ucapku
“masa lalu dengan tinta emas bagi kami semua” ucap wongso
“Dia tidak hanya datang kepadaku, tapi ke mereka semua. Bertanya tentang laki-laki itu” ucap wongs sambil berdiri
“Dan kemarin dia ngabisin satu plastik besar tisu dirumahku, belum dibayar lagi? He he he he” ucap udin
“Hei… semua orang pernah melakukan hal yang salah, tapi apa salahnya jika dibenarkan. Dia memang tidak bercerita secara detail mengenai lelaki itu, tapi sebenarnya teman-temannya ada yang pernah melakukan itu. Tapi karena ada bidadari datang dalam hidup mereka, mereka berhenti karena tidak ingin membuat sakit bidadarinya”
“Ada yang berhenti mabok, ngedrugs, nyabu, ngesek-ngesek dan masih banyak lagi, semua mereka lakukan agar bidadari yang datang tidak pergi lagi” lanjut wongso yang membungkuk dengan kedua telapak tangannya meremas lututnya. Wajahnya tepat didepan wajahku.
“jika kamu merasa bersalah, jangan terlalu merendahkan diri kamu. Rendah hati boleh tapi rendah diri jangan. Bersikaplah sewajarnya kamu…” ucap wongso meninggalkan aku dan berkumpul bersama mereka
Aku termenung dengan ucapan wongso, enta apa yang ada dipikiranku saat ini. kosong dan tak menentu. Dian, kenapa kamu datang lagi, apakah kamu benar-benar ingin tahu aku sebenarnya? Masa bodohlah, aku akan mencari permaisuriku yang sebenarnya jika itu bukan kamu.
“Woi! Kumpul sini napa, biar kaya manusia” ucap dewo dan karyo
Aku kemudian berdiri dan berjalan kearah mereka. Mereka tersenyum kepadku, ada yang mengacungkan jempol, jari tengah, jempol kecepit dan aku hanya bisa tersenyum memandang mereka. Tak ada pembicaraan mengenai apa yang terjadi malam ini, apa yang terjadi dengan dian. yang ada kami bercanda semalam suntuk hingga pagi menjelang.
Rembulan yang sama ketika aku bersamamu
Namun apalah dayaku
Aku terlalu kotor untukmu
Maafkan aku wahai rembulan terang, saksi bisuku
Saksi bisu tentang kisah cinta yang gelap.
Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI
Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

